Jujur saja ketika wacana kenaikan BBM bergulir dan rakyatpun serta merta menolak rencana kenaikan BBM tersebut , ibu-ibu rumah tangga mengeluh ketika harga-harga sembako di pasar kian merangkak naik dan alangkah kagetnya ketika membeli gorengan harganya sudah Rp. 700 perbuah yang tadinya hanya Rp. 500 ,- saja padahal kenaikan BBM baru sebatas rencana.
Bayang-bayang kenaikan harga sebagai akibat dari rencana kenaikan BBM menjadikan mimpi-mimpi buruk masyarakat Indonesia yang sebagian besar kondisi sosial ekonomi yang masih memprihatinkan , masih dibawah garis kemiskinan, tingkat pengangguran yang masih tinggi membuat kehidupan masyarakat Indonesia kian menjadi sulit dan kian terhimpit.
perjuangan para mahasiswa yang berjibaku turun kejalan yang beraksi menolak rencana kenaikan BBM seakan tak lagi membawa perubahan banyak dan hanya membuahkan penundaan rencana kenaikan BBM tersebut, padahal penundaan rencana kenakan BBM tersebut bagaikan Bom waktu yang pada akhirnya BBM tetap saja akan mengalami kenaikan, kalau sudah demikian kemana lagi rakyat akan berkeluh kesah lagi dan mungkin saja siapa lagi yang akan mendengar?
Langkah-langkah aspirasi para mahasiswa sudah begitu cantik diplomasi dan demontrasi sudah dipergunakan namun hasilnya tetap saja berada ditangan mereka-mereka yang diatas yakni para pemegang kekuasaan, sering kita dengar para pemegang kekuasaan ini tetap lebih memperhatikan atas dasar rakyat dan tak ingin rakyat hidup penuh dengan penderitaan, begitulah kata mereka..
Namun masyarakat indonesia mungkin nanti kedepan tetap saja akan mendengar Perkataan “ Maafkan saya Rakyatku, BBM tetap akan saya naikan juga?”
(tulisan ini bisa dibaca juga di KOMPASIANA)
Like this:
Be the first to like this post.